Ibu, Yuk Kendalikan Emosimu

August 03, 2020

Ketika Anda punya masalah, ingin marah dan berteriak, segeralah pindah ke gelombang otak yang kreatif. Cara memindahkannya sederhana; tersenyumlah.

Hola Ibu mamashay semoga sehat and happy selalu yah, walau keadaan masih belum pasti. Harus lebih banyak stok sabarnya, agar ibu tetap kuat dan tetap waras ^^.

Apakah anak anak masih sekolah dari rumah?  Anak saya masih mengikuti sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Saat harus mendampingi mereka belajar terutama anak dengan usia sekolah dini, tak jarang ulahnya memancing emosi ibu keluar, ya gak sih?. Padahal tidak cuma satu anak yang harus kita dampingi, iya kan .

Nah kali ini saya ingin mengajak ibu, bunda, mama, yuk sama sama kita belajar kendalikan emosi kita saat mengasuh sang buah hati. Pengasuhan anak tidak sebatas mendampingi saat belajar pendidikan formal namun pada seluruh aspek kehidupan. 

Mungkin Ibu bekerja lebih bisa mengendalikan emosinya ketimbang kita yang full time mommy. Karena tingkat tekanan ibu bekerja dirumah lebih tinggi yah. 

Mengatur emosi ibu dalam mengasuh anak sudah sering dibahas. Baik berupa artikel, kuliah WhatsApp, flyer, maupun konten di sosial media.

Cara-cara berikut ini saya rangkum dari berbagai sumber yang saya ikuti seperti webinar MOMAcademy dan ACT for humanity dimana dr Aisah Dahlan, CHt  sebagai narasumber. Lalu ada webinar bersama Bapak Fahruroji,. CHC.,MCHt seorang motivator keluarga dan hypnoterapist. Juga kuliah whatsApp Bunda SGM dengan psikologi anak, ibu Anna  Surti Ariani,. Spsi., M.Si.

Apakah mama atau ibu diluar sana sering marah saat mengasuh anaknya, seperti saya? Apabila sudah terlanjur sering marah-marah apa yang harus kita lakukan? bagaima cara mengendalikan emosi saat mengasuh anak. Apakah selamanya seorang ibu tidak boleh marah?

Itu pertanyaan yang tersimpan dalam benak saya. Seorang  ibu terus menerus diingatkan untuk mengatur emosinya saat mengasuh anak. Ibu tidak boleh memarahi anak, ibu juga harus bisa menjaga perasaan anak, ibu tidak boleh melontarkan kata-kata kasar yang menyakitkan. Karena semua itu dapat berpengaruh buruk pada kesehatan mental sang anak. Anak menjadi seseorang yang tidak percaya diri atau mungkin bisa menjadi anak yang pemberontak. Banyak dampak buruk akibat memarahi anak. Seperti yang saya baca dari popmama.com disini. Saya terbilang sering ikut kuliah whatsapp maupun webinar tentang mengatur emosi Ibu. Pernah juga mengikuti hypnotherapi bersama, yang diselenggarakan majalah Nakita (loving not labeling), semua bertujuan agar saya dapat mengendalikan emosi saya. Walau terkadang masih sulit mempraktekkannya, tetapi saya harus bisa dan terus berusaha.

EMOSI

Tidak semua ibu sering marah sampai-sampai mendapat label pemarah oleh anaknya. Banyak juga Ibu yang bisa mengatur emosinya. Namun mengendalikan amarah bagi sebagian Ibu bukanlah hal mudah. Beberapa pola asuh terdahulu  menganggab marah itu untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Ini terjadi pada generasi angkatan kakek  saya (Ibu saya sebagai anak).

Pada kulwap “Mengatur Emosi Bunda ketika si kecil harus belajar dari rumah” oleh ibu Anna  Surti Ariani, Spsi., M.Si., psikologi anak , menyebutkan emosi adalah reaksi  diri sendiri terhadap pengalaman tertentu seperti senang, sedih. Sedangkan menurut KBBI emosi adalah perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, juga keadaan atau reaksi psikologis dan fisiologis.

Emosi ada dua jenis, Emosi positif seperti bahagia, senang, semangat, penuh cinta, penuh syukur. sedangkan Emosi negatif berupa sedih, marah, apatis, takut, Iri, benci, cemburu, sombong. Marah termasuk bentuk emosi negatif. Tanpa disadari ibu menegur anak dengan marah, melarang anak dengan marah. Mengapa Ibu sering marah? apa yang menyebabkan terjadi emosi negatif marah?


PENYEBAB EMOSI

Ada banyak faktor  yang  mempengaruhi emosi ibu. Faktor dari luar tidak adanya support sistem ibu. Kurangnya bantuan suami pada istri, dalam hal ini secara  psikologi. Bisa juga bantuan secara tenaga, dalam membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kurangnya waktu untuk diri  ibu sendiri. Keterbatasan ilmu terutama ilmu parenting, tidak paham teknologi. Ada permasalahan dalam keluarga. Sedangkan faktor dari dalam diri dapat dipengaruhi (tekanan) stress, kesiapan mental menjadi seorang Ibu, traumatik pola pengasuhan ibu di waktu kecil, tingginya ekspektasi dan tuntutan ibu / keluarga terhadap anak. Kondisi kesehatan, tingkat kesabaran dan keimanan seseorang juga berpengaruh.

MENGATUR EMOSI

Menurut ibu Anna  Surti Ariani, Spsi., M.Si., psikologi anak, pada kulwap bunda SGM, ada yang namanya jendela toleransi setiap orang punya batasan terhadap hal hal yang bisa ditoleransi alias sesuatu yang tidak menimbulkan emosi negatif.  contoh saat si kecil menumpahkan air atau susu dan ibu merasa baik baik saja, berarti itu masih ada di jendela toleransi ibu. Sebaliknya ada yang langsung marah, berarti kejadian tersebut sudah diluar jendela toleransi Ibu. Baca juga; ibu tak perlu marah jika anak melakukan ini.

Jika anak terlanjur membuat ibu marah (keluar dari jendela toleransi), maka yang harusp dilakukan adalah segera kembali ke dalam jendela toleransi ibu, bagaimana caranya?

  1. Sebisa mungkin ibu menguasai diri .
  2. Bernapaslah dengan tenang tarik napas dalam secara perlahan dalam hitungan 1 sampai 5. Lalu buang perlahan dalam hitungan1 sampai 5. Usahakan ambil sikap duduk tenang dengan kaki menapak dilantai sambil mengatur napas .
  3. Setiap kali emosi negatif muncul baik marah, sedih, kecewa, berhenti sejenak dari aktivitas. 
  4. Menjauhlah sesaat dari hal yang memicu emosi negatif, contoh sang anak terus menerus melontarkan pertanyaan yang akhirnya membuat ibu kesal, nah untuk sesaat bisa menjauh dari si anak.
  5. Alihkan pikiran ibu sementara dengan memikirkan hal hal yang menyenangkan.
Sedangkan menurut Fahruroji,. CHC., MCHt seorang motivator keluarga yang juga hypnoterapist. Ada tiga  hal yang harus diterapkan agar ibu emosi bisa dikendalikan.

Sadar

Hendaknya Ibu sadar, mengetahui betul perannya sebagai orang tua. Sosok ibu yang identik dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang perlu menjadi acuan bahwa begitulah kita seharusnya bersikap. Ibu sebagai orang tua perempuan dari seorang anak memiliki peranan penting dalam pengasuhan dan pendidikan. Begitu pentingnya sehingga tak seorang pun bisa menggantikan posisi ibu. Tak hanya itu, ibu sebagai role model anak sehingga harus menunjukan sikap dan perilaku baik. Ingat istilah monkey see monkey do, anak anak mencontoh apa yang ibu lakukan. sadarlah ibu mereka hanya manusia yang belum selesai tahapan belajarnya. Jadi sangatlah wajar jika mereka berbuat salah.

Sabar

Tiap  anak adalah unik, mereka berbeda satu dengan lainnya. Itu sebabnya tidak boleh menjadikan kemampuan anak lain sebagai tolak ukur maupun cermin anak kita. Kenali Ia, tak hanya kenal secara fisik, orang tua juga harus kenal anak secara sifat , watak dan karakter. Sesuaikan dengan keadaan dan kemampuannya. Ekspektasi dan tuntutan ibu yang terlalu tinggi terhadap anak membuat kita sering tidak sabar. Ibu harus selalu ingat bahwa proses belajar itu tidak instant, butuh waktu panjang. sama halnya dengan ibu yang harus belajar sepanjang  hidupnya.

Syukur

Anak adalah anugerah dari sang pencipta, sudah seharusnya kita senang dan menjaga pemberian itu sebaik-baiknya. Karena tidak tiap orang mendapatkan anugerah. Menurut beberapa kepercayaan selain  anugerah anak merupakan titipan. Nantinya tiap manusia yang dititipkan anak akan diminta pertanggungjawaban.

Berbeda dengan ibu Anna dan Pak Fahruroji, dr Aisah Dahlan mengajarkan untuk mengatur emosi menggunakan pendekatan berbasis agama islam, dengan mengembalikan emosi negati menjadi positif.

  1. Ketika ibu dihadapkan pada masalah yang membuat marah, pertama kendalikan diri (mengatur pernapasan) lalu mengakui emosi yang ibu rasakan kepada Allah. Utarakan emosi yang ibu rasakan hanya kepada Allah.
  2. Mengangkat emosi energi negatif dengan Tarik napas panjang berkali-kali. Bagi umat muslim bisa mengucapkan kalimat istigfar sembari mengatur napas. Ambil sikap duduk jika berdiri masih belum mereda. (saat berhadapan dengan anak yang membuat kita marah lakukan ini)
  3. Meminta yang diharapkan melalui doa yanhidupng kita panjatkan kepada Allah. Afirmasi positif pada anak.

Semua cara diatas memang tidak mudah dilakukan untuk mengatur emosi yang negatif kembali menjadi positif. Namun perlu dilatih secara terus menerus  dan dengan tekad yang kuat juga konsisten agar menjadi ibu yang terbaik.

Saat mendidik anak sebaiknya kita sedang berada di jendela toleransi. Sehingga ibu ayah bisa sadar secara penuh apapun yang dikatakan dan dilakukan. Jika mendidik dilakukan diluar jendela toleransi maka yg terjadi adalah pengasuhan yang emosional dan efeknya kurang baik, himbau Ibu Anna.

Seringkali sesudah kita memarahi sang anak, kita dideru perasaan bersalah. Tak jarang kita menangis dan menyesal sambil memandangi wajah lugunya saat ia tertidur. Itupun pernah saya alami.

Saran saya, berlatih mengendalikan emosi dari cara cara diatas. Banyak membaca artikel cara mengatur emosi, mengikuti kulwap maupun webinar yang berhubungan dengan mengatur emosi. Kemudian ingat terus bahwa ibu harus sadar perannya sebagai orang tua perempuan. terus berlatih pernapasan dan terapi mengendalikan emosi. Dan yakin ini pasti berhasil, kini saya lebih bisa mengatur emosi saat anak berbuat sesuatu diluar jendela toleransi saya.

Semoga bermanfaat,
salam J


  • Share:

You Might Also Like

53 comments

  1. Duh Makasih remindernya mom. Ini related banget sama apa yg aku alami saaat ini, terkadang suka keleasan ngomel sama anak. Artikel ini semacam reminder buat aku bangeet.. ��

    ReplyDelete
  2. semoga bisa dipraktekkan ya Mom, aku sekarang alhamdulilah bisa lebih mengendalikan emosi

    ReplyDelete
  3. Tetap aja Mom sulit aku praktekkan..nangis waktu lihat anak bobo setelah dimarahin tapi nanti aku ulang lagi..hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya eymmm sulit, aku juga harus berkali kali inget trus kumat lagi hahaha

      Delete
  4. Sadar sabar syukur... semoga bisa Ya Allah.. kudu lebih banyak belajar lagi yaa...

    ReplyDelete
  5. Saya termasuk yg tidak bida menahan emosi terhadap anak. Saya suka meledak ledak tapi segera biasa lagi. Ga ada dendam. Beda dengan suami, yg pendiam, tapi marahnya panjaaaaaaang alias menyimpan unek unek dalam hatinya.
    Anak seharusnya tidak didampingi ketika kita sedang emosi ya...
    Saya harus banyak menahan diri, sabar dan syukur rupanya...
    Doakan saya bisa ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih terus belajar menahan nafas nih. Hehehe...
      Susah ya untuk tidak emosi itu.
      Apalagi Ak malah ngeyel karena merasa didukung bapaknya. Sudah deh saya lepas tangan saja.

      Delete
    2. nah iya bener banget Mba, suami saya cenderung pendiam tapi sekali marah duaaarrrr

      Delete
  6. huaaaa baca ini jadi tersentil banget deh.. aku kadang masih belum bisa kelola emosi aku deh mbak.. perlu banget healing nih.. semoga aku bisa mencerna, memahami dan menjalankan semua informasi dalam tulisan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo kamu bisa syantik, terus mencoba ya

      Delete
  7. Aku banget ini 😭 sering banget gak bisa nahan emosi sama anakku . Sampe anakku tuh gak berani ngebantah sama apa yang bundanya bilang. Ntah itu bagus atau justru gak baik karena anakku mungkin terlalu takut sama aku

    ReplyDelete
  8. Sadar sabar syukur adalah kunci banget ya buat para ibu untuk mengendalikan emosinya. Aku kadang suka sedih aja gitu ya jadi anak trus bikin mamahku jadi marah huhu, semoga aku bisa sabar sama anakku nanti

    ReplyDelete
  9. hiks aku tertohok deh kadang suka ga sabaran kalo lagi ngajarin anakku selama school from home ini, jadi berasa guilty deh jadinya malem2 cium2in anakku deh nih

    ReplyDelete
  10. Meski pendekatannya mungkin sedikit berbeda, tapi rasanya rata-rata mengingatkan untuk mengenali emosi dulu, ya. Banyak pula yang menyampaikan perlunya mengajarkan anak mengenali emosinya sendiri, sebab tidak cukup dengan hanya solusi, perkara emosi ini harus dirunut dulu dari akarnya. Kebiasaan kita kadang kan pokoknya emosi itu dianggap sudah dari sananya dan tidak perlu dibahas lebih jauh, yang penting gimana menahannya, padahal ini juga tidak pas.

    ReplyDelete
  11. Ga tau kenapa akhir-akhir ini aku mudah tersulut emosi melihat tingkah anak. Padahal ya gitu-gitu aja sih. Kalau hampir lepas kendali, aku berlatih napas dan menyadari bahwa he's just a kid.

    ReplyDelete
  12. Hikss faktor dari dalam ini yang emang masih susah banget buat diatasi. Terutama berdamai dengan masa lalu. Semoga bisa cepat teratasi...

    ReplyDelete
  13. Sabar dan syukur ini harus nomor satu biar nggak emosian slalu. Apalagi anak PJJ dan 24 jam sama ibu terus, harus banyak bersyukur.

    ReplyDelete
  14. Bener bgt ya kalo lg emosi tuh inhale exhale mujarab bgt.. emosi lgsg reda.. aku akan nerapin ini terus deh aplg kalo ngadepin anak2ku nanti

    ReplyDelete
  15. Apalagi saat banyak pikiran dan ga enak badan, ga usah ibu-ibu, pasti gampang emosian.aku harus bisa mengelola emosi dari Sekarang biar bisa menghadapi anakku nanti

    ReplyDelete
  16. Bookmarked! Makasih banyak mbak tulisannya :''') Aku juga jadi merefleksikan diri nih dan belajar banyak soal mengelola emosi

    ReplyDelete
  17. Kuncinya berarri 3S ya mbak: sadar, sabar, syukur. Walopun saya yakin pasti susah mengendalikan emosi/marah terutama saat menumpuknya pekerjaan ditambah anak yg lg rewel dan mgkn kondisi rumah jd lagi berantakan. Saya bisa bayangin betapa ingin meledaknya seorang ibu 😅

    ReplyDelete
  18. mengelola emosi sama pentingnya dengan mengelola uang, saya pun yg statusnya belum punya anak seringkali dibikin emosi jiwa raga sama kerjaan hehe
    terimakasih tulisannya sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  19. Aku juga kadang emosian mba wkwkwk pas ngurusin rumah nggak dibantuin
    soalnya capek kan mengerjakan sendirian.

    ReplyDelete
  20. terima kasih sudah diingatkan kembali mbak, kadang emang ada masa di mana ibuk2 tu riweuh banget, apalagi masa kyk skrng pas sekolah PJJ dll haha.
    Kududiperhatikan banget emosi kita supaya bawaannya saat bicara ke anak jg enak krn anak akan ingat itu yaa

    ReplyDelete
  21. Bener banget. Emosi emang harus di menej ya biar bisa di kendalikan.

    ReplyDelete
  22. Noted sekali mba, 3S, Sadar, Sabar, Syukur, supaya tetap terjaga emosinya dengan baik dan tidak meledak-ledak.

    ReplyDelete
  23. Challenging banget ya kak para moms dimasa pandemi. Selain banyak urusan pekerjaan rumah, banyak pula tugas anak yg harus dilakukan daring.

    ReplyDelete
  24. Sebagai orang tua, mengendalikan emosi ini penting loh apalagi saat sekarang ini dimana anak sedang belajari dari rumah. Banyak banget curhatan para ibu yang sudah emosi banget menghadapi cara belajar online ini.

    ReplyDelete
  25. Artikel yang bermanfaat daku ini, saat mengalami fase menjadi istri kemudian menjadi orangtua besok. Perlu mengatur emosi ya.

    ReplyDelete
  26. huhuuuu aku yg seorang ibu baru yg masih labil emosinya, kadang sampe bingung hrs gmn :) terima kasih sharingnya :)

    ReplyDelete
  27. Setuju mbak julia, dgn mengenal jenis dan level emosi semoga kita lebih sadar untuk mengelolanya. InsyaAllah kalau kita bs mengelola emosi negatif, anak2 pasti akan ngikutin ya

    ReplyDelete
  28. Mengelola emosi saat mendidik anak memang penting.

    ReplyDelete
  29. Sebelumnya ga kebayang soap emosi positive. Tapi memang emosi harus dikelola dengan baik ya. Apalagi saat menghadapi anak

    ReplyDelete
  30. Para ibu memang dasarnya banyak yang bawel hehehe. Tetapi, di saat PJJ ini jadi banyak juga yang mudah tersulut emosi. Bahkan melampiaskan ke anak.

    Bikin saya sedih lihatnya. Makanya penting banget mengelola emosi. Marah boleh aja asalkan jangan kebablasan. Kasihan nanti efeknya bisa panjang ke anak

    ReplyDelete
  31. Alhamdulillah di titik saat ini masih bisa mengelola emosiku, belajar terus dan mempraktekan hal2 diatas yang butuh proses dan waktu yang ga sebentar. Semoga bisa mempertahankan berada di level semangat, damai dan menerima.
    Semangat buat buibuu..apalagi yang pjj.

    ReplyDelete
  32. Huaaaa makasih banyak ya sharingnya aku emang butuh ini banget kak heheh akan aku laksanakan semoga aku bisa jadi Ibu yang baik seperti ibu peri hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha jangan kayak peri aaah, nanti kita gak balik ke dunia fana, pisss

      Delete
  33. Saat emosi memang pengin langsung lampiaskan tapi jika ingat bahwa anak belum ada pemikiran sampai sejauh apa yang kita pikirkan, kembali disadarkan untuk selalu bersabar karena jangan sampai menyesal kemudian disebabkan dihantui perasaan bersalah.

    Terima kasih artikelnya Mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Teh sama sama, saya masih terus belajar dan terus belajar krn mengendalikan emosi tak mudah bagi saya.

      Delete
  34. tentang emosi, yg memang dipunya oleh setiap insan di dunia ini, apalagi ketika emosi itu berupa kemarahan dan juga bentakan, semoga masing-masing dari kita bisa mengaturnya ya..Apalagi di jaman BDR dan PJJ ini tuh buutuh stok sabar

    ReplyDelete
  35. Hieks, dulu aku pernah khilaf ketelepasan nyabet anakku wkt massih kecil pake celana jeans yang baru diangkat dr jemuran. trus kayanya resleting celananya kena pipi dia. Jd kegores. Astagfirullah abis itu aku kapok. Nangis terus kalau inget. Skrg anaknya mah udah SMA, udah perjaka, udah ga inget kali dia mah. Tp di hati aku ga bs ilang. Makasi remindernya ya 😭

    ReplyDelete
  36. Susah-susah gampang emang praktekinnya yah mbak, apalgi pas anak emang lagi gemes-gemesnya, musti sabar banget yaah hehe.

    ReplyDelete
  37. Salut sama semua ibu. Enggak usah ibu, saya aja kadang kalo lagi mendampingi anak sepupu main dan makan suka geregetan karena dia gak nurut hehehe. Gimana ibu ya, yg 24 jam ada sama anaknya. Semangat ya buat semua para ibu

    ReplyDelete
  38. jadi ingat pernah dengar obrolan anak-anak gadis di angkot
    Rata-rata berkisah bahwa ibunya galak
    Ada yang biilang ibunya marah-marah sesudah tidur siang, ada yang marah marah tanpa sebab dst
    Emang sebagai ibu kita sering "khilaf"

    ReplyDelete
  39. Saya pun dibesarkan dengan seringnya muncul emosi ngomel ngomel dan ayah yang suka memukul jika saya salah.

    Namun saya berjuang untuk nggak mengulangi pola yang sama ke anak anak saya, sebab jadi kenangan nggak menyenangkan

    Terima kasih atas tulisannya yang manis sekali, MomJul.

    ReplyDelete
  40. Gak gampang sih bagi orang tua khususnya ibu untuk mengatur emosi saat mengasuh anak. Apalagi saat anak sedang keluar sifat nakalnya, butuh kesabaran ekstra deh

    ReplyDelete
  41. Wah dr Aisyah Dahlan pemateri ya? Keren pemaparan beliau. Aku beberapa kali ngikutin kajiannya d Yt. Btw betul banget sadar dan syukur itu kunci manajemen emosi ibu :')

    ReplyDelete
  42. PR setiap Ibu ya Mba, aku merasakan sekali saat susah menahan diri (untuk ngomel, marah), sekian menit setelahnya hati aku sakit karena udah nyakitin si kecil secara verbal. Aku sering minta ma'af ke Anak, dan khas-nya Anak² yang mudah kembali senyum dengan pelukan, bikin aku sangat bersyukur dan di sisi lain ada perasaan nyesek. Hihi.

    Thanks for reminder ya Mba :)

    ReplyDelete
  43. Biasanya kalau sudah emosi tinggi, saya stop dulu interaksi dengan anak, dan lakukan hal-hal yang menyenangkan dulu, beberapa tips di atas juga sudah saya praktekan dan alhamdulillah berhasil.

    ReplyDelete
  44. Iya bener, kalau marah ke anak, malah ntarnya ga nurut. Makanya ketika aku emosi, suka banyakin istighfar. Ngurusin anak itu harus sabar dan tenang.

    ReplyDelete
  45. Ternyata energi marah lebih kuat dari takut ya. Pantas kalau lagi marah suka mendadak berani hehe

    ReplyDelete
  46. Bener banget harus 3S yaitu sadar, sabar dan syukur yah. Dari 3 hal tersebut insyallah hidup akan indah. Aamiin

    ReplyDelete
  47. Mending kalo anak2 jangan dimarahin takutnya udah besar jadi ngelawan gitu kak

    ReplyDelete